paling populer

posting populer

Posted by : Unknown Selasa, 06 Desember 2011

Selama beberapa hari kemarin, sepertinya para pemimpin Palestina akan segera melepaskan intifadhah ketiga. Kondisi Al-Quds, jika tidak hendak dikatakan berada dalam situasi siaga tiga, maka sudah “cukup” genting. Al-Quds dikepung dimana-mana dan Israel disinyalir akan segera menduduki Yerusalem Timur. Kondisi yang membuat rakyat Palestina mungkin harus segera turun lagi ke jalan, dalam satu hati dan gerakan: intifadhah. 


Sebenarnya apa intifadhah ini? 
Apa artinya bagi orang Palestina dan umat Islam sedunia?

Kata intifada selalu lekat di benak kita dengan gerakan kebangkitan rakyat Palestina yang membawa senjata batu. Anak-anak muda dan remaja dengan membawa batu bangkit melawan tentara Zionis Israel. Mereka dengan fasilitas yang sangat minim berjuang untuk mencapai tujuan yang besar, yaitu kebebasan negeri Palestina dari pendudukan kaum Zionis
Gerakan kebangkitan ini diilhami oleh kemenangan revolusi Islam di Iran yang berjuang untuk menghidupkan kembali kebesaran Islam, dan jawaban telak atas aksi brutal yang dilakukan rezim pendudukan Quds terhadap bangsa Palestina
Intifada adalah reaksi atas keputus-asaan, kekecewaan, kelemahan dan kekerdilan negara-negara Arab dalam menghadapi Israel. Intifada adalah reaksi atas kegagalan langkah-langkah yang dilakukan oleh faksi-faksi bersenjata dan kelompok-kelompok politik Palestina dalam membebaskan negeri mereka.
Sejarah Intifadhah


Tanggal 9 Desember 1987 menjadi hari yang tak terlupakan di bumi Palestina. Hari itu, meletuslah sebuah perang perlawanan terhadap Zionis Israel. Semua yang ada di Palestina merapatkan barisan, menjadi satu shaff, tua muda, laki-laki dan sebagian perempuan. Media menyebut waktu itu sebagai “Pertempuran terdahsyat sejak proklamasi negara Zionis Israel tahun 1948.
Intifada berasal dari kata berbahasa Arab intifadlah dari asal kata nafadla yang berarti gerakan, goncangan, revolusi, pembersihan, kebangkitan, kefakuman menjelang revolusi, dan gerakan yang diiringi dengan kecepatan dan kekuatan. Intifada pertama kali dipakai sebagai nama oleh sebuah kelompok perjuangan Palestina yang membelot dari Gerakan Fatah. Namun kini kata itu lekat dengan gerakan kebangkitan baru rakyat Palestina.
Pada dekade 1980-an, rakyat Palestina secara serentak bangkit melakukan perlawanan menentang rezim Zionis Israel. Sejak itu, intifada dipakai untuk menyebut gerakan yang muncul secara tiba-tiba, serentak, independen, agresif, universal, dengan kesadaran dan rasa protes, serta dengan penuh keberanian. Gerakan itu dilakukan oleh rakyat Palestina dalam menghadapi rezim Zionis Israel.
Hebatnya, pada Intifadhah yang pertama kali meletus, Palestina berperang tanpa persenjataan dan tanpa dibantu negara-negara Arab tetangganya. Saat itu, rakyat Palestina tidak memiliki sarana dan fasilitas apapun dalam perjuangan membebaskan negeri mereka melawan tentara Zionis. Mereka bersenjatakan batu untuk membela diri dan menyerang musuh.
Karena itu, intifada dekade 80-an disebut juga dengan revolusi batu. Meski hanya bersenjatakan batu, tetapi intifada ini sangat menakutkan bagi Israel. Sebab dalam kitab suci mereka tercatat kisah Nabi Daud as yang membunuh Jalut, raja yang kejam dan bengis dengan senjata batu.
Tidak heran jika anak-anak Palestina kemudian selama bertahun-tahun sampai kini dikenal dengan sebutan “Children of Stone” atau anak-anak batu.


Mengenai gerakan intifada, Syahid Dr Fathi Ibrahim Shaqaqi, Sekjen pertama Gerakan Jihad Islam Palestina mengatakan:
“Dalam sejarah revolusi dan perjuangan, kata intifada memiliki latar belakang yang panjang. Akan tetapi dari sisi makna, intifada berarti kebangkitan menggantikan masa kevakuman. Intifada adalah tahap pendahulu bagi sebuah revolusi. Misalnya, di Iran, terjadi kebangkitan di madrasah Feiziyah Qom. Kebangkitan itu kita namakan intifada, sebab gerakan itu pada tahun 1979 membuahkan kemenangan revolusi. Apa yang terjadi saat ini di Palestina tak lain adalah tahap bagi sebuah revolusi. Kita tak pernah membayangkan gerakan kebangkitan ini akan berjalan secara luas dan universal seperti ini. Kita namakan gerakan ini dengan nama intifada. Karena itu, kami di Gerakan Jihad Islam menyebut kebangkitan ini sebagai intifada dan revolusi.”
Faktor Pemicu Kebangkitan Intifada
Intifada terjadi karena adanya beberapa faktor pemicu, di antaranya adalah;
1- Kemenangan revolusi Islam di Iran.

Pada bulan Februari tahun 1979, Iran dengan revolusi Islamnya menyentakkan umat Islam untuk bangkit dan bertindak untuk menghidupkan kembali kejayaan Islam. Revolusi ini meniupkan semangat dan meningkatkan rasa percaya diri kepada bangsa Palestina. Rakyat Palestina tergugah bahwa mereka memiliki kemampuan yang cukup untuk merebut kembali hak-hak mereka yang terampas. Kemenangan revolusi Islam adalah bukti bahwa Islam mampu mengalahkan kezaliman, serta menumbangkan rezim-rezim despotik dan arogan. Kaum muslimin di Palestina memandang bangsa Iran sebagai saudara yang setia sebelum dan setelah kemenangan revolusi Islam. Mereka menyadari bahwa meski terlihat besar dan kuat, AS ternyata keropos dan tak mampu mempertahankan kekuasaan rezim Syah Pahlevi menghadapi gerakan kebangkitan rakyat. Proses kemenangan revolusi Islam di Iran sangat mencengangkan. Perjuangan bangsa Iran melawan kekuasan rezim Syah menjadi teladan dan contoh bagi gerakan para pejuang Islam di Palestina
2- Kezaliman dan kekejaman Rezim Zionis Israel.
Syahid Dr Fathi Shaqaqi dalam hal ini mengatakan,
“Intifada adalah jawaban atas tindakan rezim pendudukan yang membantai bangsa Palestina dan balasan atas kesombongan kaum Zionis yang dengan semena-mena menghancurkan rumah-rumah rakyat Palestina, merampas tanah mereka, menempatkan orang-orang Yahudi di wilayah itu dengan membangun pemukiman-pemukiman Zionis, menyiksa warga Palestina, menangkap, mengasingkan, meneror dan meretakkan tulang-tulang mereka, menghancurkan perekonomian bangsa ini dan merusak infra struktur, mencuri sumber-sumber air, menetapkan pajak dan denda yang tinggi, menutup sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, menghalang-halangi warga Palestina untuk bekerja mencari nafkah, melecehkan hak-hak asasi, hak politik dan semua kekejaman yang dilakukan terhadap rakyat Palestina secara massal…”
3- Kekecewaan terhadap sikap para pemimpin dunia Arab.
Dr Fathi Shaqaqi mengenai hal ini mengatakan,
“Intifada adalah jawaban atas fakta menyedihkan dan mengecewakan yaitu sikap para pemimpin dunia Arab yang tergantung pada pihak asing serta kelemahan mereka. Mereka tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada masalah Palestina dan menempatkan masalah ini dalam baris terbawah di agenda kerja mereka. Semua orang menyaksikan hal ini seperti yang terjadi pada Konferensi Tingkat Tinggi Arab yang digelar bulan November 1987.
Pada tahun itu, untuk pertama kalinya, masalah Palestina tidak diprioritaskan. Mereka lebih mementingkan masalah lain yaitu isu perang Irak dan Iran. Yang lebih menyakitkan, para pemimpin Arab itu memutuskan untuk menggelar konferensi damai Arab dan Israel yang dihadiri oleh delegasi dari AS dan Uni Soviet.

4-Kegagalan faksi-faksi militer dan politik Palestina untuk menyelamatkan negeri mereka.
Dengan kekalahan Arab dalam perang tahun 1967, keterlibatan unsur-unsur dari Palestina dalam perjuangan melawan Israel menjadi isu yang tak terhindarkan. Karena itu, berbagai lembaga, organisasi dan kelompok gerilyawan militer dan politik berdatangan ke tengah medan. Mereka semua berupaya keras membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel melalui perlawanan bersenjata.
Akan tetapi semangat itu mengendur pada akhir dekade 1970-an. Kelompok-kelompok tersebut, termasuk PLO menganggap bahwa dengan perlawanan bersenjata mereka tak akan mampu mengalahkan Israel. Akibatnya, keputus-asaan menyelimuti mereka yang lantas mengubah strategi perjuangan dari perlawanan bersenjata kepada cara-cara diplomasi.
Namun tak lama berselang, cara politik juga tidak membuahkan hasil. Rasa pesimis dan keputus-asaan ini semakin membesar, ketika satu persatu kelompok-kelompok tersebut jatuh dalam pengaruh negara-negara Arab yang telah mengkhianati Palestina. (kissanak/dw)

Leave a Reply

Bangun Opini untuk kemerdekaan Palestine

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 SSP (free palestine) - fajarullah - Powered by Blogger - Designed by Djogan -